Aku tak rela jika harus meninggalkanmu sendiri. Biarlah kita sama-sama merasakan lahar keringat panas yang mengalir dari tubuh kita tanpa harus ada jarak. Panas ini terlalu sangat untuk kau nikmati hanya bersama anakmu. Biarlah aku pun dalam panas itu, hingga kau dapatkan kehangatan bersama anak kita. Bebanmu terlalu berat untuk kutinggal pergi karena gumpalan lahar kata dan bara perasaan yang menyala-nyala di dirimu belum tuntas.
Tusukan angin malam menjahit mulut-mulut mereka. Tak ada suara. Pengap. Tiba-tiba suara teriakan mengejutkan mereka dalam kebekuan. Buyar seketika. Teriring keringat hangat mulai membasuh mukanya yang lusuh.
“Suamiku, tak mungkin kita meninggalkan tempat ini. Ini sudah terlalu jauh untuk kita pijaki. Biarlah, jika pun mereka sampai di sini kita menyerah saja”
“Tidak istriku !” sambil menggenggam buntalan dan mengangkat tangan istrinya keluar dari kepekatan malam di balik semak belukar yang rindang. Anak itu masih terlalu kecil untuk paham apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dia tidak paham apa-apa tentang bahaya yang mengejarnya. Dan hanya bisa diam. Mulutnya tersumbat kesunyian. Tapi matanya masih membelingar memperhatikan wajah ibunya yang sedang kebingungan. Dia tak berani menangis.
Pertarungan dengan malam terus berlangsung. Tebasan-tebasan tangan mereka menyisakan gemericit bunyi kesunyian di antara dahan-dahan yang kaku di keheningan malam. Mereka masih jauh dari aman. Masih jauh dari tempat yang mereka cari untuk persembunyian.
“Di sana…di sana….di sana” Iring-iringan obor melalap malam bersama dinginnya dan menghanguskan teriakan penduduk yang sedang lari-lari kecil dan menerjang malam.
“Hai… di mana kalian bersembunyi ?”
Hingar-bingar orang-orang tamak akan dunia memecah kesunyian para sufi yang sedang bersujud pada Ilahi. Embun hanya bisa mendekap dan menambah malam menjadi lebit pekat.
“Kita serahkan saja anak ini, biar kita selamat. Pergilah suamiku. Tinggalkan aku sendiri di sini. Sambutlah mereka dengan anak kita biar kita bisa pergi dengan selamat ” ungkapan putus asa telah terdengar. Sang istri telah mulai kehilangan akal.
“Tidak istriku. Ini anak kita. Anak kita, yang nantinya akan meneruskan perjuangan kita. Tak usahlah kau khawatir. Kita akan selamat. Ayo buanglah rasa putus asamu. Buat malam ini membuka sayapnya dengan keyakinanmu, bahwa kita akan selamat demi anak kita. Karena aku akan tetap mempertahankannya sampai tak kutemukan lagi setapak jalan mungil di kaki bukit itu”
Kemudian semuanya terdiam. Tanpa kata. Hanya nafas mereka yang saling sapa menyapa. Kemudian sang suami melanjutkan kata-katanya:
“Istriku. Mereka bukan orang bodoh”
“Tapi…..” Tak sempat menyempurnakan sanggahnya. Tangannya telah tertarik.
Malam semakin menampakkan kepekatannya yang begitu menakutkan. Dan lolongan anjing malam pun sudah mulai terdengar dengan iring-iringan burung malam yang sedang mencari makan. Sementara kilatan-kilatan obor penduduk masih berduyun-duyun dari belah rimbun-rimbun belukar berduri.
“Demi keselamatan kami, berilah keajaiban, Tuhan atau jika perlu belahlah bumi ini untuk persembunyian kami agar kami terhindar dari kekejian orang-orang itu ” Do’a dilantunkan seiring gerimis menerjang kegelapan bersama petir yang menyambar malam dan ketakutan yang menjadi-jadi. Daun-daun berebutan mencari celah persembunyian dari amuk gerimis yang sinis. Dahan-dahan menari-nari mengiringi kecemasan mereka. Seketika petir menyambar untuk yang kedua kalinya, kilatannya menyambar obor-obor penduduk yang semakin gerang tanpa lelah dalam pencariannya. Kabut mulai datang bersama hentakan hujan yang meninggalkan gerimis. Hujan tuli dan buta akan segala yang terjadi pada mereka berdua. Tubuhnya mulai tampak beku kedinginan. Bercak-bercak ketakutan berkolaborasi dengan badan-badannya yang telah mulai menggigil. Begitu juga obor-obor yang mencarinya telah tenggelam bersama terjangan hujan yang menakutkan. Malam berkonser. Daun-daun menari saling himpit menghimpit. Tak ada yang mau mengalah satu sama lain.
***
Tangisan menjerit di ujung dusun itu. Menjadi satu pertanda bahwa upacara ritual akan segera digelar. Banyak keanehan malam itu. Tak ada yang berani berbicara apalagi menentang. Kesunyian, ketakutan, kegusaran, kebencian dan pasrah berkomposisi jadi diam dan tangis. Perempuan-perempuan berkumpul. Saling peluk. Tapi semuanya larut dengan nasib. Larut bersama pasrah. Sebuah upacaranya ritual sepuluh tahunan untuk mendapatkan kesugihan dan ketentraman hidup di dunia dengan harus meneteskan darah. Darah anak-anak yang lahir tepat di bulan purnama.
Kemudian tiba-tiba saja terdengar:
“Tidak..!”
“Tidak..!”
Pekikan suara dari kejauhan tiba-tiba terdengar. Sambil tergopoh-gobah menghunus keris menghampiri kerumunan orang. Tiba-tiba saja dia menangis dan berlutut. Semuanya terdiam. Tak ada yang berani menegur. Seolah malam itu semua tunduk kepadanya.
Gemintang di atas langit sana tak tampak. Karena awan dari sisa hujan yang hampir membuat upacara ritual penumbalan itu gagal masih tebal. Langit juga murung. Tak ada kilat. Guntur. Glodok. Semua seolah benar-benar lagi tertegun. Patuh, tinggal menunggu perintah. Dan pandangan hanya pada perempuan yang masih berlutut. Tak tahu apa yang hendak dia perbuat. Berputar. Seakan ada yang dia cari:
“Anak…anakku, di mana anakku?” sambil menusukkan kerisnya kelangit. Perempuan itu terus saja berputar. Terulang lagi kata:
“Di mana anakku…?” dengan suara parau dan sumbangnya. Suaranya memecah kesunyian. Orang-orang yang dari tadi hanya diam dan menyaksikan apa yang hendak perempuan itu perbuat akhirnya mengeluarkan suaranya masing-masing. Ada yang saling berbisik. Ada yang hanya menggerutu sendiri. Semuanya jadi gaduh. Malam yang mencekam luluh lantah bersama hadirnya perempuan tak dikenal itu. Dan tiba-tiba:
“Apakah kalian sudah buta. Tuli dan bisu? Kenapa kalian hanya diam saja?” tangan kekarnya menghunuskan kerisnya kearah para perempuan yang sedang bersila pasrah. Semuanya terbelalak dan semua bibir mereka gemetar tak terhingga.
“Kenapa kalian hanya diam atas segala yang menimpa kalian? Aku tahu kalian semua bukan perempuan bodoh. Bukan perempuan yang tidak punya hati nurani. Kalian perempuan kuat. Tapi kenapa tidak kalian lakukan perlawanan untuk merebut anak kalian”
Tiba-tiba propaganda itu terhenti saat sebuah pentungan sampai tepat di kepala perempuan tak dikenal itu.
“Ah…” sambil memegang kepalanya dan berbalik melihat siapa yang memukulnya. Tapi dia belum juga terjatuh. Sampai pada pukulan yang kedua tubuhnya terpelanting dan menjerit kesakitan.
Semua orang-orang gusar. Menjerit. Masih tetap dalam pelukan masing-masing. Tapi suaranya masih menggema terdengar:
“Malam ini aku bahagia karena aku masih punya nyali untuk melawan meski akhirnya aku harus mati”
Kalimat terakhir membuat suasana semakin panas dan penuh tanda tanya. Dan tak henti-hnti keheranan mereka menjadi tetap saja diam. Dan tetap tak ada yang berani menghampiri tubuh yang baru terkulai tak berdaya itu. Kemungkinan dia sudah mati.
***
Sementara di balik bukit sana. Nafas masih terdengar terpengkal-pengkal. Tentunya mereka tidak tahu apa-apa tentang apa yang baru dilakukan malam pada perempuan tak dikenal itu. Mereka berdua sudah sangat jauh berlari tuk mencari selamat.
Tak terdengar lagi suara penduduk yang mengejarnya. Bahkan kilatan obor-obor penduduk tak lagi menghanguskan malam. Semuanya menjdi sangat sepi.
“Berhenti dulu suamiku. Mereka sudah tak terdengar lagi. Mungkin saja mereka telah kembali untuk melaporkan kegagalan mereka memburu kita”
“Be..be..nar istriku. Aku tak mendengar teriakan mereka lagi. Mungkin malam membungkus jalan kita, istriku hingga mereka terjebak oleh kabut dan tak tahu arah kita pergi”
Kemudian terdengar suara sedih:
“Apa yang terjadi ditengah-tengah alun-alun dusun sekarang suamiku? Sudahkan darah para anak kecil telah menetes dan ibuibu itu terkapar pinsan karena melihat anaknya dijadikan tumbal didepan mata telanjang mereka? Atau semuanya telah meninggal karena saking tak terbendungnya kesedihan dan emosi mereka terhadap tingkah para Tua dusun itu?”
Malam yang beku dan sunyi. Dimana pasangan suami istri berteduh dari amuk embun di bawah pohon yang rindang, kemudian terdengarlah kokok ayam. Malaikat malam mulai menggulung kepengapan malam dengan aroma angin pagi yang segar. Sesegar pikiran meraka berdua yang selamat dari ancaman pembuhuhan bermotif kesugihan. Tapi mereka tetap saja tak tahu bahwa malam telah berlumuran darah seorang perempuan tak dikenal.
2008
Rabu, 06 Agustus 2008
Langganan:
Postingan (Atom)