
Hingga di suatu senja bayangan perempuan itu hadir, seperti yang pernah singgah pada perjalanan mimpiku suatu malam. Kabut yang tiba-tiba pecah. Kelebat hadirnya diantara bintang kejora yang memerah membuatku gelisah. Aku kembali mengingat-ngingat apa yang pernah menimpaku malam itu. Seperti rembulan mengiring perjalanan malam. Seperti gemintang memagari langit. Aku termangu pada sadar yang absurd. Pikiranku kembali berkelana mengikuti garis-garis merah senja yang melingkar dan tiba-tiba berubah warna menjadi abu-abu. Gelap tiba. Aku kembali kehilangan jejak petualanganku mengingat perempuan itu.
Di depan ladang mimpiku malam itu. Hari telah benar-benar gelap sementara perempan itu masih seperti senja. Indah. Tapi hari ini semuanya tak mampu kugambarkan tapi melekat dalam dari. Aku dibuatnya berada diantara senja dan malam. Keduanya mengapitku jadi gila. Gila akan perempuan yang akan aku gambar. Jari-jariku gemetar. Berjalanku seakan sia-sia. Memergoki sudut-sudut perempuan yang benar-benar pernah hadir dalam mimpiku. Dan akhirnya, aku hanya mampu menghadirkannya sepenggal demi sepenggal.
Perjalanan ini sangat melelahkan, malam. karena bayangan itu tak juga mau melekat dengan sempurna pada kanvasku hingga tintanya beku. Hanya keringat dingin yang membanjiri seluruh tubuhku. Aku belum bisa berhenti. Aku telah berusaha keras meletakkan bayangan itu menjadi perempuan yang hadir dalam mimpiku dengan sempurna. Perempuan itu. Perempuan yang tak jelas asul usulnya. Kenapa membuatku penasaran?
Perempuan aku tak bisa menggambarmu sempurna seperti hadirmu malam itu. Atau memang sengaja kau hadir hanya untuk mempermainkanku. Bayangmu kau hadirkan hanya untuk membuatku tersiksa.
Segera aku raih kertas dan pen. Kucoba menggambarnya lewat kata. Mungkin kau akan takluk. Serupa kau tunduk pada Tuhanmu.
Angin tiba-tiba berhenti. Daun-daun ikut menghentikan perbincangannya tentang perempuan itu. Hanya asap rokok yang angkuh itu berani mengganyang sepi. Dengan nafas yang saling saut aku tetap diam. Diam seribu bahasa. Tapi tetap mencari perempuan itu untuk kugambar lewat kata-kata.
***
Dia memanggil-manggilku:
“Jeafrie… Jeafrie… Jeafrie…akulah yang kau cari kini menunggumu disini. Temuilah aku cepat Jeafrie. Telah sekian lama aku menunggumu”
Perempuan itu memanggilku dari batas jalan. Dari atas tanggul sebuah pematang sawah. Dengan gaunnya yang indah. Matanya yang cerah. Lambaian tangannya yang memintaku mendekat menggerayangi sekujur tubuh. Aku dibuatnya terbang. Entah, seketika itu aku telah berada didepannya. Dia tersenyum. Dan tak berkata apa-apa. Mulutku tak manpu dibuka. Mataku seakan tercipta untuk tidak berkedip. Untuk tidak ketinggalan sekejap auranya yang tak manpu kuungkap lewat kata-kata.
Mulutnya terus berbisik, tapi aku tak mampu menangkap bahasanya yang teramat halus. Suaranya seperti kedua tangannya yang lentik menggeranyanyi tubuhku. Aku tak berdaya. Aku seperti anak kecil yang menunggu merintah. Tak berani berkata.
Angin tiba-tiba membuat nafasku sesak. Sesak sekali hampir aku tak bisa menahannya. Tapi aku tetap tak bisa membuka mulutku. Kembali perempuan itu membuka mulutnya:
“Jeafrie, apakah kau tidak senang aku panggil kemari? Aku menunggumu disini sejak lama hampir aku tak sabar dibuatmu. Hingga aku coba hadir dalam mimpimu. Itu nyata Jeafrie. Itu benar-benar aku. Aku mencintaimu semenjak kau terlahir kedunia dan kita telah pernah hidup bersama” aku semakin bingung dibuatnya. Suaranya parau, seolah dia dalam kondisi yang sangat sedih. Sedih sekali karena ditinggal sang kekasih. Sang pujaan hati.
Tanggul-tanggul itupun tak ada yang berani berkata. Bahkan hewan-hewan yang biasa menggerayanyi malam menjadi indah, juga khidmat mendengar kata-katanya yang samasekali tak kumengerti. Mataku belum sempat tertutup. Mulutku terkunci rapat dan tiba-tiba dia merangkulku.
Aku benar-benar belum mengerti apa maksudnya. Gemintang dan rembulan di atas sana hanya memandangku tak berdaya. Langit terbentang menampakkan keluasannya. Dan bumi masih terhampar. Tubuhku kaku dibuatnya. Bibirnya yang sempat menyentuh bibirku. Tak juga membuatku bergerak. Aku benar-benar kaku. Hingga sampai, tangannya mengantar tanganku kepada tempat yang menurutku sangat rahasia. Tapi dia tak tanggung-tangung mengantarnya. Aku memegangnya, tapi tak juga kusentuh dengan serpurna. Aku tak merasakan apa-apa. Yang kutahu perempuan yang memelukku hanya mendesah, mendesis-desis seperti ular berbisa yang ingin mematok mangsanya. Menggeliat. Kadang terpental sendiri. Melepaskan ciumannya. Kembali lagi. Kemudian tangannya yang indah itu menziarahi milikku. Aku tersentak dan hampir tak percaya bahwa sesungguhnya aku telah telanjang bulat. Dan dia pun tanpa sehelai kain. Kami berdua berguling-guling di atas tanah yang basah. Ternyata kami telah di bawah tanggul. Tanggul menjadi saksi atas segala buat. Tapi aku benar-benar tak mengerti???
“Apakah kamu suka Jeafrie? Aku telah lama menunggumu seperti ini. Aku rindu kehangatan seperti dulu saat kita masih hidup berdua. Tapi sayang Jeafrie, aku tidak bisa lagi menemanimu dengan sempurna, karena sekarang dunia kita berbeda”.
Aku semakin bigung dibuatnya. Aku tak mampu manangkap maksud perempuan itu.
“Kau benar-benar belum berubah Jeafrie. Aku mengharapkan itu hingga kita bisa bertemu lagi di tempat yang sama. Tempat abadi. Di mana tak ada satu pun yang bisa membuat kita berpisah.”
Tiba-tiba dia melepaskan benda kesayanganku dan menghentikan ciumannya. Aku semakin tak mengerti apa lagi yang hendak dia perbuat padaku. Dia hanya menatapku dengan tatapan sendu. Matanya dipenuhi butir-butir indah. Kemudian dia berdiri sambil memakai pakaiannya kembali. Aku pun mengikutinya.
“Maafkan aku Jeafrie, kita tidak bisa melanjutkan permainan ini. Aku harus pergi. Tapi sebelumnya aku harus mengantarmu ke suatu tempat. Dia menunjuk ke sebuah bukit. Dan langsung dia menangkap tanganku. Kemudian aku dibawa kesana. Kakiku tak terasa menginjak bumi. Tapi aku merasa bahwa aku sedang berjalan. Yang aku injak sangat lembut. Lembut sekali. Aku hanya terdiam. Perempuan itu pun hanya diam meski sesekali dia menoleh untuk memastikan keberadaanku yang kaku.”
“Kita sudah sampai Jeafrie.”
Aku semakin tidak mengerti. Dia membawaku kesebuah tempat yang sangat sepi. Semak belukar yang rimbun, tapi aku lihat timbunan-timbunan tanah yang biasa orang-orang menyebutnya kuburan. Aku masih belum berani berkata apa-apa.
Kemudian dia maju kedepan tanpa mempedulikanku dan berhenti di sebuah timbunan tanah yang menurutku sangat baru. Kuburan yang kira-kira masih berumur satu atau dua bulanan. Dia duduk bersila. Aku mendengar dia tersedu. Aku beranikan diri mendekat. Pikiranku kembali berfungsi. Dan aku mencoba mencari jawaban atas segala yang terjadi padaku. Apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang sebenarnya telah menimpa perempuan itu. Belum sempat aku melanjutkan, tiba-tiba…
“Kau mungkin akan bertanya Jeafrie, siapa aku sebenarnya dan ini kuburan siapa dan juga kau sekarang lagi ada di mana. Sudah saatnya aku mengatakan ini semua. Tentang segala yang terjadi dan yang menimpa keluargamu dan keluargaku. Aku yakin kamu tidak akan ingat apa-apa. Karena kata dokter kau terkena penyaklit. Penyakit yang melumpuhkan segala ingatan. Bahkan melupakan segalanya. Masa lalumu kau takkan pernah mengingatnya”
Aku kembali pada petualanganku. Bertanya-tanya tanpa ada jawaban. Sebenarnya apa yang terjadi dengan diriku?
“Dua bulan yang lalu, ada sebuah peristiwa yang menimpa keluarga kita. Kita baru satu bulan menikah. Baru menikmati hari-hari dengan sangat indah. Satu minggu setelah pernikahan kita. Kau dipangil untuk segera menyelesaikan kuliah senimu di Jerman. Akhirnya kau memutuskan untuk pergi dan membawaku ke sana. Tapi tuhan berkehendak lain sebelum kita sampai aku telah tidak melihatmu. Aku hanya melihat kerumunan orang yang sedang menguburkan mayat. Setelah aku tahu itu adalah jasadku. Ternyata aku baru sadar bahwa aku telah mati. Tapi aku sungguh-sungguh tak melihatmu bersamaku. Aku kau tinggal sendiri. Padahal dalam sumpahmu. Tak akan pernah kau meninggalkanku, walau hanya hanya menunggu sedetik pun. Tapi tidak hanya sedetik, sejam, minggu dan seterusnya aku belum melihatmu berkelindan dan menjemputku. Kenapa hanya jasadku yang terkubur. Akhirnya aku memutuskan untuk mencarimu. Aku menemukanmu di sebuah rumah sakit jiwa. Kau dengan teman-temanmu sedang bermain girang dan seperti biasa ternyata kau masih belum melupakan kanvasmu. Aku melihatmu melukis. Meski belum sempurna melukisku tapi aku bisa menangkap dengan sempurna siapa sosok itu. Dengan rambut tergerai, mata yang masih setengah jadi. Pipi samudranya. Tak lain. Itu adalah aku. Istrimu. Kekasihmu. Aku menunggumu. Janjimu untuk menemaniku selamanya.”
***
“Tidak……kkkkkk….” Tiba-tiba aku menjerit keras. Membubarkan konsentrasi orang-orang yang sedang tenggelam dalam mimpi dan malaikat yang sedang bersujud. Tiba-tiba saja aku telah berada ditempat yang sangat ramai, dinding, sepre, bantal selimut dan orang-orang di dalamnya serba putih. Putih. Putih. Pucat pasih seperti perempuan yang mengaku istriku. Apakah benar segala apa yang dikatakan perempuan yang mengaku istriku itu? Aku berada dirumah sakit jiwa. Apa aku gila? Ah...
2008